Mengontrol atau Memaksa?
Banyak sekali yang terjadi di hari ini, termasuk perasaan yang begitu mudah untuk aku kendalikan. Aku mulai belajar mengatur perubahan perasaan ku semenjak pandemi, yang dimana dimasa itu banyak sekali tekanan datang dari berbagai arah.
Covid 19 sebuah virus baru dari Wuhan
Cina yang masuk di Indonesia, yang seketika merubah banyak aspek kehidupan,
terutama kesehatan, perekonomian, pendidikan, dan sosial. Dari aspek kesehatan
virus ini sangan mudah sekali menyebar, bahkan yang terinfeksi pun beberapa ada
yang tidak memiliki gejala, juga banyak memakan korban jiwa.
Dari aspek perekonomian jelas ini sangat
terasa sekali, karna semenjak adanya virus Covid 19 pemerintah menganjurkan
masyarakat untuk dirumah aja tidak boleh kemana – mana kecuali berkepentingan.
Sehingga pusat perbelanjaan seperti mall, pasar, sepermarket dll pun mulai sepi
pengunjung, yang mengakibatkan penurunan profit perusahaan – perusahaan,
membuat banyak karyawan terkena PHK massal efek dari ketidakmampuan perusahaan
untuk mengaji karyawannya, dan beberapa ada pula yang dirumahkan.
Seperti itulah yang terjadi pada
tahun pertama, awal mula covid 19 menyebar di Indonesia. Namun sekarang
kondisinya memang jauh lebih baik, tetapi dari segi ekonomi belum benar – benar
pulis seperti sebelumnya, hanya saja tempat perbelanjaan, kuliner, dan juga
wisata sudah mulai beroperasi seperti sedia kala.
Dari aspek
ekonomi itulah yang paling aku rasakan saat ini sebagai seorang pembisnis awal,
terlebih ketika target marketing yang sering kali meleset dari angka yang
diharapkan. Semenjak pemerintah menganjurkan untuk dirumah aja penjualan
langsung anjlok, bahkan terkadang satu barang pun tidak keluar sama sekali.
Disebagian sisi aku bersyukur karena masih bisa bertahan pada posisi yang cukup
menguncangkan.
Ketika
keadaan mulai membaik, kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan perihal
larangan mudik setelah tanggal yang sudah di tentukan, seketika itu juga mulai
tanggal 1 ramadhan penjuala menurun sangat drastis. Entah itu hanya sekedar
cocokologi yang aku lakukan atau memang itulah yang terjadi, yang dimana orang –
orang yang ada di situ kebanyakan pada pulang kampung di awal ramadhan sebelum
penyekatan itu terjadi.
Bukan hanya
sekedar berhenti pada problem penjualannya, tetapi juga pada karyawannya yang
juga pada mudik dalam waktu yang tidak bisa di tentukan, sehingga mau tidak mau
harus turun tangan untuk melayani pelanggan langsung. Dari perjalanan melayani
pelanggan itulah yang membuat aku belajar lebih cepat dalam mengontrol
perasaan, karena mau tidak mau, dan suka tidak suka pelanggan harus tetap
melihat aku tersenyum dalam melayaninya tidak peduli bagaimana pun keadaan hati
yang sebenarnya.
Pernah suatu
hari aku sedang dalam kondisi marah kepada karyawan dikarenakan melihat keadaan
konter yang cukup memprihatinkan, kemudian di hari yang bersamaan pelanggan
cukup ramai, sehingga aku pun terus memaksakan diri untuk tidak memperlihatkan
sisi marah ku kepada setiap pelanggan yang datang.
Bukan hanya
sekedar itu, karena di hari yang bersamaan, seseorang datang dan mematahkan
hati ku saat itu, yang membuat lengkap segala macam jenis rasa yang hati ku
rasakan saat itu. Namun, tidak peduli seberapa banyak butir air mata yang jatuh
ketika pelanggan tidak ada, aku terus memaksa senyumku setiap kali mereka
hadir, aku tetap terus memaksa lisanku untuk menawarkan berbagai macam produk
yang aku jual, bahkan aku pun terus memaksa telinga ku untuk mendengarkan
berbagai keluh kesah dari setiap mereka yang hadir.
Memang terasa
sangat melelahkan, tulang – tulang pipi pun terasa sangat sakit, tetapi itu
tidak membuat aku berhenti memaksanya melakukan sesuai apa yang aku inginkan.
Minggu, 30 Mei 2021
Yogyakarta
Komentar
Posting Komentar