Berita Duka

“husna”

“hallo”

“kalo free tlpn aku yaaa”

                Itu adalah pesan pertama yang aku buka di pagi ini, “tumben banget. Biasanya langsung telpon” batinku. Tanpa merespon pesan itu terlebih dahulu, aku bersiap untuk melakukan segala aktifitasku di pagi ini, rasanya kasur masih terus memanggil, namun aku harus bangun sesegera mungkin. Setelah waktuku agak longar sekitar jam 8an lebih, baru aku coba untuk menghubungi si pengirim pesan yang tidak lain adalah temanku sendiri.

                Saat perlama kali aku mendengar suaranya, aku sudah merasa ada yang aneh dengannya, “kenapa” tanyakku, kemudian dia langsung bilang bahwa dia sakit, dan katanya terjangkit virus covid 19. Dia pun menceritakan jika bahwa dia abis perjalanan keluar kota bersama istri dan anak-anaknya, kemudian jatuh sakit dan sekarang sudah 3 hari berada di RS di ruang isolasi.

                “husna kamu tau kan, bagaimana beban moral yang aku rasakan sekarang? Seperti apa dilingkungan ku, keluarga, tetangga, kamu pahamkan?” yaa, di lingkungan masyarakat, covid 19 itu memang seperti aib bahkan sekalipun sudah 1 tahun lebih Indonesia menghadapi wabah ini. Namun tetap saja mereka yang terjangkit corona virus bukan hanya sekedar menikmati rasa sakitnya tetapi juga beban mentalnya untuk mengahadapi masyarakat sekitar.

                 Seketika aku teringat pada salah satu sub bab yang pernah aku tuliskan di salah satu novel online ku, yang mana aku menulis prihal penderita covid 19 ini, siapa sangka jika sekarang justru ada salah satu orang terdekatku yang mengalaminya.

                Dia adalah orang baik yang bersedia ada di sampingku, disaat orang-orang yang aku andalkan justru pergi meninggalkanku. Dia adalah salah satu support yang membuat aku pada akhirnya bisa  menyelesaikan program sarjanaku tepat pada tahun ke 4. Teruntuk orang-orang baik yang pernah hadir dalam hidupku, tidak mungkin aku lupa pada hal-hal yang pernah kalian berikan kepadaku.

                “husna, jika memang penyakit ini adalah jalanku menuju Allah,  tolong sampaikan ke temen-temen yaa…” ucapnya dengan nada yang terdengar berat. “lho kok pesimis gitu?” kataku seketika sebelum dia menyelesaikan ucapannya. “kamu denger ga ada suara orang nangis?” katanya, “iya, kenepa emang?” sahutkku. “ada yang meninggal dan itu pasien covid juga” sahutnya dengan suara yang semakin melemah.

                Seketika itu, langsung saja wejanganku yang panjang kali lebar kali tinggi mengalir begitu saja dalam waktu yang sesingkat-singkatnya ditambah suara yang setenang-tenangnya, yaaa boleh dibayangkan. Bisa ga ? Gak ya ?? Sama sih -_-

                Jujur saja, sebagai perempuan aku mengagumi sosok lelaki sepertinya, meskipun terkadang riweh banget ngeliatnya, dan juga sebagai perempuan aku pun mengagumi sosok wanita seperti istrinya yang begitu kalem dan sabar. Yaa, aku mengagumi pasangan ini yang dimataku saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya.

                “makasih ya, udah dengerin aku kemana lagi aku cerita kalau bukan ke kamu” ucapnya sebelum panggilan ini diakhiri, “santai aja, kalau ada apa-apa langsung telpon aja” sahutku serius. “kamu hati-hati ya disana, jangan sampai terpapar juga” sambungnya lagi, “iya, pasti” sahutku mantap.

                Aku yakin pasti tidak mudah bagi mereka menjalani ini semua, semoga saja mereka saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Ah, seketika terbayang kedua anaknya yang lucu-lucu, yang satunya usil dan jail, sedangkan yang satunya lagi ngalahan banget, sangat mirip dengan karakter ibu dan juga bapaknya. Semangatnya jangan sampai kendor yaa, biar tetap tangguh melawan virus yang ada di tubuh.

 

Rabu, 26 Mei 2021

Yogyakarta

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengontrol atau Memaksa?

3 TIPS NGEBUCININ DIRI SENDIRI

3 Tips Jitu Mengalahkan Mental Block