Kamu dan Segala Kenangan
“kamu mau tas ini gak? Masih baru
kok”
Pesan
penghantar di pagi ini dari seseorang yang sering kali ada untukku.
Bahagia sekali rasanya saat tau
dia sudah kembali di Jogja, dia yang sering kali mengatakan iya pada setiap
yang aku minta. Seperti hari ini saat aku ingin meminjam laptopnya karena
laptopku sedang tidak baik-baik saja, aku memintanya untuk mengantar ke
kosanku, padahal jarak antara tempatnya ke kosanku lumayan jauh sekalipun masih
sesame di Jogja.
Namun
siapa sangka, pada waktu yang ditentukan hujan cukup deras. Kemudian dia bilang
akan datang besok pagi aja, karena hujan tidak kunjung berhenti, tetapi aku
bilang bahwa aku segera butuh laptopnya malam ini juga. Tetapi setelah itu
tidak ada lagi kabar tentangnya, pesanku tidak dibalas, telpon ku pun tidak
diangkatnya.
Waktu
terus berjalan, dan sebentar lagi adzan isya akan berkumandang, tiba-tiba ada
orang yang membuka pintu kamarku, dan ternyata dia datang, tentu saja aku
sambut dengan senyuman, orang yang aku harapkan seketika sudah ada di hadapan. Bukan
sekedar senyum sihh, ketawa malah liat dia kaya riweh banget bawa tiga tas
dengan pakaian yang agak basah. “maapin yakk” batinku geli.
Dia
adalah salah satu wanita tangguhku sejak masih jaman kuliah, yang bersedia ada
dan juga sabar dengan segala bentuk kerewelanku. Dia juga yang sering
menemaniku kemana-mana, bahkan sekalipun setelah dia menikah dan tinggal
bersama suaminya di Jakarta, dia tetap mengupayakan dan balik ke Jogja,
meskipun dia tidak cukup lama stay di Jogja, tetapi itu sudah cukup membuatku
bahagia dengan hadirnya.
Teringat
dulu ketika dia tiba-tiba chat aku dan bilang “kamu dimana, aku ke kosan yaa”
begitu katanya, “iya kesini aja” jawabku singkat. Kemudian dia bilang “kita
makan enak yukk, aku lagi punya duit nihh” hanya sekedar aku baca, ‘biarlah, tunggu
dia datang aja’ batinku. Setalah dia sampai kosan pun udah langsung heboh milih
tempat yang mau kita datengin.
Alhasil,
kami memilih salah satu tempat yang tidak terlalu jauh dari kosan, dan aku
beneran hanya membawa diri tanpa membawa uang sepeserpun. Kami pesan makanan
beraneka macam, dan lucunya ketika dikasir uangnya kurang, hahaa mengelikan
sekali bukan? Kemudian dia menanyakan aku bawa uang berapa, dan langsung aku
jawab aja apa adanya. “dihh kamu seriusan cuma bawa diri doang??” tanyanya
dengan agak kesal, aku pun mengangguk dengan santainya.
Akhirnya
dia pergi ke ATM untuk mengambil uang, sedangkan aku masih menunggunya di
tempat makan itu. Dan sampai sekarang sering kali menjadi kebiasaan setiap kali
pergi dengannya aku gak ada bawa uang cash sama sekali, sampai dia bilang “aku
merasa menjadi ibumu” aku pun ketawa mendengarnya.
Dulu
sebelum dia menikah, dia sempat memintaku menjadi madunya, yaa jelas ku tolak
lah, aku tidak suka berbagi apalagi prihal suami. Terkadang aku merasa aneh
dengan perempuan sepertinya yang belajar agama begitu mendalam, hingga
membuatnya begitu taat dan rela demi ridhonya dan juga surga yang Allah
janjikan. Yaa, apalah daya wanita seperti aku yang masih banyak berfikir prihal
dunia.
Aku
sering kali ngeluh sama dia “ih gak ada yang ngajakin aku jalan” terlebih
ketika aku sedang lelah sekaligus bosan dengan segala bentuk rutinitas. “dihh,
kamu tu suka ngomong gitu, padahal aku sering ngajakin jalan tapi kamu sibuk
mulu” sahutnya dengan nada sewot. “kapan?? Yaudah ayok sekarang” ikutan ngegas
dong wkwkk seru emang mincing keributan tuhh, apalagi pas lagi bosan-bosannya
hehee.
Jumat, 28 Mei 2021
Yogyakarta
Komentar
Posting Komentar