Rasah Sambat

                Hari ini mengawali pagi dengan semangat luar biasa, bagaimana tidak baru bisa istirahat sekitar jam 2 pagi dan harus start kembali jam 6 pagi. Bukan sekedar itu, ada berbagai macam drama lagi di pagi ini, mulai dari sakit perut yang tidak bisa di kondisikan sampai akhirnya baru bisa stay hampir setengah 8.

Selain itu, ada perbedaan pendapat dengan patner bisnisku yang menambah kegemasan di pagi ini, yaa memang itu sudah sering kali terjadi, namun karena hari ini perasaan dan badan sedang tidak cukup baik membuat responku lebih cenderung diam dan ketus tidak cerewet seperti biasanya, hal ini membuat susana cukup memanas di pagi hari. Yaa meski matahari memang sudah mulai panas sih.

                Sejujurnya dia adalah orang yang dimana dengannya aku bisa bersikap apa adanya, ketika marah aku tunjukkan marahku, kecewa aku beritahukan apa yang menjadi kecewaku, gak punya duit pun aku ceritakan. Dia adalah orang yang berani menganggu waktuku hingga berjam-jam, tidak peduli pagi, siang, atau bahkan malam dan dini hari sekalipun.

Ketika datang ke kosan, diusir berulang kali pun gak pernah mempan, dan ketika telpon berjam-jam tidak peduli bagaimanapun caraku menyudahi selalu ada aja yang dibicarakan. Jika sewaktu-waktu aku sibuk dengan urusanku sendiri, kemudian setelahnya pasti selalu ada aja yang diperdebatkan. Bahkan sampai sering kali aku bilang padanya “wes mas, cukup semene wae konco an e awak e dewe, aku bosen ro koe!” pake tanda seru karena memang aku mengucapkannya dengan keras, tapi reaksinya selalu santai aja kaya orang ga punya dosa.

Menyebalkan sekali rasanya, dimatanya hanya usaha dan kerja kerasnya yang terlihat, sedangkan apa yang diupayakan orang lain tidak pernah nampak sama sekali. Tapi pagi ini tenaga ku rasanya sudah terkuras dan tidak sanggup melayani perdebatan apapun dengannya yang tidak pernah mau kalah apalagi ngalah.

Aku memutuskan berpatner dengannya karena aku merasa kami berdua sama, sama-sama terbuka dan apa adanya, marahnya pun hanya sebatas itu dan selesai gitu aja setelahnya. Hanya saja hari ini mungkin aku sedang sedikit sensitif dengan apa yang ada.

Namun memang beberapa waktu terakhir ini tidak banyak waktu yang aku habiskan dengannya, biasanya udah ketemu, masih telponan sampe pagi, hemm lebih parah dari jaman aku punya pacar rasanya. Beberapa waktu terakhir ini tidak jarang chat nya terabaikan karena ketumpuk dengan yang lain, jadi aku kelupaan untuk membalasnya, dan juga telponnya beberapa kali aku matiin gitu aja ketika aku sudah merasa capek, ketika bertemu pun tidak banyak ngobrol karena diburu waktu untuk segera menyelesaikan apa yang menjadi tugasnya.

Huuuuhf, berulang kali aku menarik nafas panjang untuk menenagkan diri. Sekuat tenaga aku berusaha menahan diri, supaya emosi tidak menguasai dan mengacaukan semuanya. Bahkan sempat hampir terucap, “yaudah, kita jalani masing-masing aja gimana?” untungnya masih bisa ku redam semuanya di dalam.

Belum lagi seketika ada seorang ibu-ibu dengan pakaian alakadarnya datang menghampiri sembari nunjuk-nunjuk dengan ucapan yang tidak jelas dan ekspresi kesal, ketika aku tanyakan apa maksudnya karena tidak paham, eh semakin ditanya justru semakin membuatnya kesal. Hmmm, apalah daya, ucapannya sungguh tidak bisa dicerna oleh otakku, ibu itu kemudian pergi dengan masih ngedumel entah apa yang diucapkannya.

Aku sangat bersyukur ada kegiatan menulis ini, sebagai tempat untuk mengeluarkan apa yang menjadi keluh kesah, terlebih disaat tidak memiliki orang yang brsedia untuk mendengarkan. Mungkin ini alasan waktu itu kenapa aku bisa menangis sebegitunya tanpa alasan dalam waktu yang cukup lama disaat orang-orang sedang terlelap dalam tidurnya. Yaa, karena aku tidak menulis dan menumpahkan apa yang menjadi beban di pikiran, perasaan dan juga badan, sehingga semua terasa memberatkan tanpa aku sadari. Wes rasah sambat ayo nuliss...

Eh, matur nuwun untuk mba mentor dan mas mentor yang sudah memfasilitasi kegiatan ini, dan juga untuk para pembaca yang setia.

 

Minggu, 23 Mei 2021

Yogyakarta

Komentar

  1. Hahaha, menarik ya. Kadang-kadang orang yang kepribadiannya mirip dengan kita, bukan berarti dia juga cocok untuk berpartner bareng kita. Kadang juga yang pribadinya bertolak belakang, bisa jadi itu yang justru cocok. Unik.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengontrol atau Memaksa?

3 TIPS NGEBUCININ DIRI SENDIRI

3 Tips Jitu Mengalahkan Mental Block