Sebuah Tugas

Hari ini adalah hari pertama untuk tugas tambahan secara pribadi di laksanakan, untuk seorang aku yang tidak terlalu pandai memulai tentu saja itu membuat ku berfikir cukup lama, berbagai macam pertanyaan terus bermunculan di kepala “apa yang sebaiknya ku bagikan untuk menghidupkan suasana yang sedang hening-heningnya?” kalimat yang terus ku tanyakan berulang kali di dalam hati, namun lagi-lagi tidak ada jawaban yang ku temukan, terlebih tidak ada sosial media yang bisa ku jadikan referensi kecuali hanya sekedar Whatsapp, karna Facebook, Instagram, dll semuanya sudah ku hapuskan dari ponselku yang tidak dapat memuat berbagai macam aplikasi.

Sekitar 1,5 jam berlalu seketika aku teringat akan diskusiku melalui chat Whatsapp dengan seseorang, seseorang yang dulu pernah aku semogakan, seseorang yang dulu pernah aku sebut dalam doa malam ku. Kemudian aku ketikkan nama yang aku simpan untuk seseorang itu di pencarian Whatsapp, perlahan aku baca ulang beberapa bait terakhir dari pesan yang tak bersuara itu. 

Akhirnya aku pilih beberapa percakapan kami yang bisa dijadikan bahan diskusi untuk ku screenshot, namun beberapa waktu kemudian belum juga ada yang on group, dan lagi-lagi sang pemberi tugas memberiku semangat untuk terus berusaha hingga group itu aktif supaya aku bisa merasakan sensasinya. Aku pun kembali berfikir apa yang senada dengan apa yang aku share sebelumnya? 

Cukup lama aku berfikir yang kemudian aku teringat akan sebuah kasus yang serupa dengan hal itu dan juga bertepatan dengan sebuah firman Allah yang sangat nyambung dengan kasus tersebut. Setelah menemukan firman Allah yang aku maksud dan membagikannya ke group, satu orang muncul disertai dengan beberapa yang lainnya yang membuatku sedikit bersyukur dan memutuskan untuk menutup ponselku kemudian bermeditasi sebelum memulai kegiatan di hari ini.

“Huuuhf” entah mengapa, ada perasaan lega yang luar biasa yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata setelah bermeditasi dan kemudian menerima panggilan vidio dari bapakku yang jauh disana. Raut mukanya yang semakin menua membuat ku tidak tega menatapnya terlalu lama, sorot matanya yang sayu membuatku ingin berhambur dalam peluknya, sorot mata itu seakan tengah menyimpan kesedihan yang tidak mampu ia suarakan. 

Aku mencoba sekuat tenaga untuk menahan air mata ku supaya tidak jatuh dan terlihat olehnya, aku pun kemudian berusaha untuk mencari topik pembicaraan yang seru supaya kami berdua sama-sama tertawa. Pada akhir pembicaraan bapak sempat menyinggung prihal apa yang tadi aku share di group yang seketika membuat aku tertawa geli sendiri, lalu melihat di dahi bapakku yang mungkin merasa aneh dengan reaksi yang nampak di wajahku.

Siang ini banyak sekali pesan masuk dari para calon karyawan yang menanyakan prihal lowongan pekerjaan yang disebar oleh patnerku, hmmm rasanya melelahkan harus membalas satu persatu dari semua pesan itu, namun lagi-lagi aku dibuat tersenyum melihat wajah yang ada di hadapanku “ah, sebahagia ini aku dibersamakan dengan mu” ucapku dalam hati. 

Meski tidak utuh, namun aku tetap berterimakasih untuk setiap kehadirannya, rasanya ada banyak hal yang ingin ku sampaikan kepadanya, namun entah mengapa setiap kali melihat senyumnya bibirku seakan terbungkam dan tidak dapat lagi mensuarakan apa yang menjadi keresahan.  Ah, apa yang harus aku tulis sekarang? Jika di pikiranku sudah penuh semuanya tentangmu. Bekerja hari ini terasa menyenangkan karena ada kamu, dan terimakasih untuk segelas es oyen yang kamu sisakan beberapa sendok untukku.

 

Sabtu, 22 Mei 2021

Yogyakarta

Komentar

  1. MasyaAllah, menjadi makin bersemangat mjd pengusaha...

    BalasHapus
  2. Cerita ini akan lebih baik lagi kalau dikemas ulang dengan runutan cerita yang lebih jelas. Semangat berproses :))

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengontrol atau Memaksa?

3 TIPS NGEBUCININ DIRI SENDIRI

3 Tips Jitu Mengalahkan Mental Block