Sekotak Donat


 

Pagi ini saya mengawali aktifitas saya dengan meditasi selama 42 menit, ketika saya menarik ujung bibir saya bagian kanan dan kiri untuk membentuk sebuah senyuman seketika itu juga hati saya merasakan kedamaian, setiap tarikan dan juga hembusan nafas membuat diri ini semakin terasa nyaman dan juga tenang. 

Perlahan semakin lama, semakin nyaman, tiba-tiba dalam pikiran saya seperti tengan berada di sebuah jalan nan panjang yang tidak dapat ku lihat dimana ujungnya, namun sebelah kanan dan juga kiri jalan tersebut adalah sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan, layaknya sebuah lukisan yang begitu menyejukkan mata. Pelan-pelan saya berjalan menuju ke arah depan sembari terus menghirup nafas panjang yang dimana udara yang masuk kedalam terasa begitu menyegarkan. 

Apa yang saya nikmati di dalam pikiran saya membuat senyum saya semakin lebar dan juga membuat perasaan saya semakin terasa menyenangkan, bahkan tanpa terasa alarm saya sudah mengingatkan jika waktunya telah usai untuk bermeditasi, dan ketika saya membuka mata saya perasaan bahagia itu masih saja terasa membuat senyum di bibir saya masih terus bertahan, kemudian saya peluk diri saya sendiri dengan penuh syukur.

Hari ini, hari terakhir saya berada di rumah, hmm ya, hari libur saya telah usai, sudah banyak tugas dan juga tanggung jawab yang telah menanti. Tetapi entah mengapa hati semakin bersemangat menanti kedatangan seseorang yang akan menjemput saya untuk kembali kepada semua rutinitas itu. Hari ini masih dengan rutinitas lebaran di kampung halaman yaitu berkunjung ke tempat saudara, terlebih masih banyak sekali saudara yang belum saya kunjungi, namun saya pilih untuk berkunjung ke rumah saudara-saudara terdekat saja, karena waktu tidak akan cukup untuk mengunjungi semua saudara. 

Sepanjang jalan rasanya tidak sabar untuk segera menyelesaikan semuanya, tidak sabar untuk segera bertemu sosok yang menjemputku, dalam hati sempat bertanya “dia, sungguh akan hadirkah untukku?” sembari menarik nafas panjang ketika mempertanyakan itu dalam hatiku, dan seketika bibirku tersenyum disertai perasaan getir di dalam dada. 

Hampir jam 11 siang, saya buka ponsel saya, dan ternyata dan pesan darinya “ini otw” sebuah pesan singkat yang begitu menyenangkan hati. Hingga waktunya tiba, dia sungguh ada hadir disini dihadapanku dengan senyuman di balik masker, hehee apakah dia sungguh tersenyum melihatku? Atau hanya sekedar pradugaku saja?

Sebelum kembali ke Jogja, kami menyempatkan untuk mampir sekedar makan makanan yang saya sukai di kota ini, padahal dia baru saja makan ketika sampai di rumah, tapi entahlah saya suka setiap kali melihatnya makan. Setelah selesai dengan semua makanan yang kami pesan, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Jogja, dalam perjalanan kami merencanakan untuk singgah sebentar di salah satu mall yang kami lewati. 

Setelah berkeliling beberapa saat dan tidak menemukan apa yang dicari, kami memutuskan untuk pulang dan dia membelikan sekotak donat untuk saya bawa pulang. sekotak donat pilihan dengan berbagai macam varian rasa yang menjadi favorit saya. Banyak hal yang saya syukuri di hari ini termasuk sekotak donat dan juga kehadirannya bukan hanya sekedar dihari ini, namun juga kehadirannya di hidup saya. Jika bukan dia yang hadir menjemput saya di hari ini, mungkin saya tidak akan sebahagia ini, dan jika bukan dia yang membelikan saya sekotak donat, munkin tidak akan sefavorit ini donat yang sedang saya nikmati.

Terimakasih untuk kamu yang sudah bersedia ada, dan terimakasih semesta untuk kebahagiaan yang kau hadirkan di awal memulai tulisan.

 

Jumat, 21 Mei 2021

Yogyakarta

Komentar

  1. MasyaAllah coach, semangat untuk menyegerakan dengan si dia yang selalu ada.

    BalasHapus
  2. Uhuyy, semoga langgeng dan jodoh yaa. Berarti donatnya gak boleh dipinta nih kayaknya :p

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengontrol atau Memaksa?

3 TIPS NGEBUCININ DIRI SENDIRI

3 Tips Jitu Mengalahkan Mental Block