Hati-hati dengan Keyakinan Keliru yang Kamu Anggap Benar

 Kekuatan Pikiran

Taukah Kamu, bahwa pikiran itu memiliki kekuatan? Karena efek kuatnya pikiran, Kamu akan terbentuk olehnya. Seperti kata pepatah “Kamu adalah apa yang Kamu pikirkan tentang dirimu”. Apalagi antara pikiran , perkataan, dan perbuatan memiliki hubungan erat dalam pembentukan karakter. Baik buruknya kata-kata yang Kamu ucapkan dan pikirkan memiliki kekuatan luar biasa yang bisa mempengaruhi dan menciptakan tindakan Kamu. Dengan kata lain, pikiran adalah katalisor yang mempengaruhi perkataan dan berdampak pada tindakan Kamu.

Jika sering berpikir gagal, maka Kamu akan sering menyebut bahwa Kamu merupakan orang yang Gagal. Kemudian Kamu akan bertindak seperti orang Gagal, yang mana tindakan ini justru memperkuat keyakinan bahwa Kamu adalah orang gagal dan pasti akan selalu gagal. Begitu juga sebaliknya. Jika pola pikir dan perilaku mempunyai kaitan yang sangat erat, maka pola pikir juga bisa menjadi penentu kesuksesan. Latha Girish, psikolog klinis di Westminter Healthcare di Chennai, mengatakan bahwa pikiran membentuk kepercayaan. Keyakinan ini terbentuk dari pengalaman serta kenangan seumur hidup. Anggapan bahwa sesuatu bisa dipercaya inilah yang kemudian berpengaruh pada tindakan Kamu.

Alam bawah sadar Kamu memainkan peranan penting dalam membentuk perilaku dan sikap Kamu. Karena terdapat perasaan tertentud alam ingatan tersebut yang tersembunyi. Sederhananya, pikiran, perkataan, dan perbuatan saling terhubung satu sama lain. Pikiran jadi perkataan. Pikiran dan perkataan jadi tindakan. Begitulah hukumnya.

 

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya

Ada sebuah cerita menarik yang saya dapatkan dari buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.  Cerita berikut sekiranya cukup menggambarkan bagaimana sebuah keyakinan yang tertanam dari faktor eksternal atau lingkungan ternyata dapat mempengaruhi keyakinan dan kepercayaan yang kita tanamkan ke dalam diri kita. Berikut ceritanya :

Beberapa tahun yang lalu, sebuah penelitian di bidang pendidikan diadakan secara rahasia di sebuah sekolah di Inggirs. Sekolah itu memiliki dua kelas untuk setiap kelompok anak-anak yang berusia sepantar. Pada akhir tahun ajaran diadakanlah sebuah ujian dalam rangka memilih anak-anak untuk pembagian kelas pada tahun-tahun berikutnya. Akan tetapi, hasil ujian itu tak pernah diumumkan. Dalam kerahasiaan, hanya kepala sekolah dan para pakar psikologi saja yang mengetahui kenyataanya, anak-anak yang mendapat peringkat satu ditempatkan di kelas yang sama dengan anak-anak yang mendapat peringkat enam dan tujuh, sepuluh dan sebelas dan selanjutnya. Dengan kata lain, berdasarkan kinerja selama ujian, anak-anak dibagi rata menjadi dua kelas. Para guru pun diseleksi berdasarkan keseteraan kemampuan. Bahkan setiap ruang kelas diberikan fasilitas yang sama. Segala sesuatunya dibuat sesetara mungkin, kecuali untuk satu hal: satu disebut “kelas A” dan yang lain disebut “kelas B”.

Pada kenyatannyaan, setiap kelas memiliki anak-anak yang setara kemampuannya. Tetapi di benak setiap orang, anak-anak dari kelas A dianggap sebagai anak-anak yang cerdas, sedangkan anak-anak dari kelas B dianggap tak begitu pKamui. Beberapa orang tua dan anak-anak kelas A mendapat kejutan yang menyenangkan karena anak-anaknya telah lulus dengan baik dan menghadiahi mereka dengan bingkisan dan pujian. Sementara beberapa orang tua dari anak-anak kelas B, mengomeli dan menghukum anak-anaknya karena mereka dianggap tak berusaha cukup keras selama ujian. Bahkan para guru pun mengajar anak-anak kelas B dengan sikap yang berbeda; dengan tidak berharap banyak dari mereka. Sepanjan tahun ajaran, ilusi tersebut terus dipertahankan. Lalu tibalah ujian akhir tahun berikutnya.

Hasilnya membuat merinding, tetapi tidak mengagetkan. Anak-anak kelas A menunjukkan prestasi yang lebih baik dari pada anak-anak kelas B. pada kenyataannya, hasilnya juga akan seperti itu jika dulunya mereka terpilih sebagao setengah dari yang teratas pada ujian tahun lalu. Mereka benar-benar menjadi anak-anak kelas A (nomor 1). Dan di kelompok lain, walaupun setara pada tahun lalu, mereka menjadi anak-anak kelas B (nomor 2) sungguhan. Seperti apa mereka diajar sepanjang tahun, seperti apa mereka diperlakukan, seperti apa mereka dipercaya, demikianlah jadinya mereka.

Dari cerita di atas, saya yakin kamu sudah menangkap poin penting yang bisa dijadikan pembelajaran dan bekal untuk selalu waspada dengan informasi yang kita konsumsi dan masukkan kedalam pikiran kita. Sebagai manusia, kita cenderung meyakini sesuatu yang berasal dari faktor eksternal kita. Apalagi keyakinan yang ditanamkan oleh figure otoritas atau orang yang berpengaruh dan dekat dengan diri kita. Seringnya tidak semua informasi, sugesti, opini yang dilontarkan dari mereka kepada diri kita merupakan sebuah kebenaran yang begitu mutlak. Apalagi jika yang diberikan adalah kata atau kalimat negative yang tidak ada manfaatnya sama sekali untuk perkembangan diri kita. Justu, hal tersebut menjadi sesuatu yang berbahaya jika kita menelannya secara mentah-mentah tanpa ada nay keinginan dan gairah untuk mencari kebenaran sesuangguhnya.

 

Yukk Sadar

Untuk itu sangat penting sekali bagi kita untuk mulai sadar dan mawas diri dengan apa yang kita liat, dan dengar tentang diri kita. Sungguh ada banyak sekali hal-hal yang bisa saja keliru dan salah, tetapi karena kemalasan kita untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya, akhirnya hal tersebut membuat diri kita terjerumus kepada pola pikir yang keliru dan tidak memberdayakan. Memang tidak bisa dipungkiri, jika kondisi seperti ini cukup lumrah kita dapatkan di kehidupan bermasyarakat. Ada banyak sekali orang-orang rese yang ntah kenapa begitu suka mengomentari, merendahkan, memberi label tertentu ke diri orang lain. Saya yakin ada begitu banyak orang di dunia ini yang terjebak dalam keyakinan keliru yang sudah menjadi keyakinan tentang dirinya. Dan jika ditelusuri darimana keyakinan keliru itu muncul, seringkali bermula dari lingkungan terdekatnya saat ia masih kecil. Mungkin ini beberapa kalimat yang cukup familiar dan sering dilontarkan :

“Kamu mana mungkin bisa kaya, orang keluarga kamu aja miskin begini.”

“Jangan mimpi yang muluk-muluk deh mau kuliah keluar kota, orang bapak ibu mu aja tamatan SD doing.”

“Kamu memang ditakdirkan jadi orang biasa aja, gak usah aneh-aneh mimpi jadi pemimpin di negeri ini.”

“Kamu itu bodoh, jadi gak usah mimpi jadi pengusaha.”

“hahha… boro-boro juara kelas, buku dan peralatan sekolah aja minjam.”

Begitulah kira-kira pernyataan yang cukup sering di lontarkan dari mulut-mulut orang yang tidak bertanggung jawab. Dan tentu masih ada banyak sekali kalimat-kalimat nyinyiran yang secara tidak sengaja ter-input kedalam pikiran bawah sadar dan menjadi suatu hal yang diyakini.

 

Cara Memahami Siapa Diri Ini

Mungkin sampai sini kamu yang membaca menjadi bertanya-tanya, Bagaimana cara agar bisa memiliki pemahaman yang tepat tentang siapa diri ini sesungguhnya? Dan tentu Bagaimana cara agar tidak terjebak dalam pemahaman keliru yang ditanamkan dari lingkungan terdekat?

Setidaknya ada lima cara yang bisa kamu terapkan dalam memberikan pemahaman yang lebih baik tentang siapa dirimu yang sesungguhnya.

1.    Melakukan Klarifikasi

Mungkin ini bukanlah hal yang gampang untuk dilakukan, tetapi jika kamu memiliki keberanian untuk bertanya tanpa ada rasa takut dan malu, hal ini sangat ampuh untuk memahami kenapa orang tersebut akhirnya menyatakan pendapatnya seperti itu kepada kamu. Tentu hal ini sangat membantu kamu untuk memahami maksud dari pernyatannya dan membuat kamu mengetaui alasan dasar dari pernyataan yang ia sampaikan kepada dirimu saat itu. Karena ada banyak sekali orang yang berkata tanpa ada landasan atau fakta yang menyertai pendapatnya terebut. Hanya omongan asbun (asal bunyi) saja yang ia lontarkan kepada lawan bicaranya. Jadi kamu tidak perlu ambil pusing jika ia sendiri tidak mempuyai alasan yang kuat dari pernyataan merendahkan atau meremehkan yang ia sampaikan kepada kamu.

 

2.    Mengikuti Tes Ke-pribadian

Jika kamu ingin segera mengetahui gambaran umum dari diri kamu, baik itu dari sisi kekuatan maupun kelemahan yang terdapat dalam diri kamu. Kamu dapat mengikuti test psikologi atau tes kepribadian untuk menemukan jawabannya. Meskipun tidak mungkin hasil dari test tersebut akurat 100% dan sangat sesuai membaca tentang dirimu. Paling tidak kamu menjadi lebih sadar bahwa setiap manusia ternyata memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

 

3.    Membaca dan Berdiskusi lebih banyak

Sebagai manusia kita diberikan akses akal yang sangat luar biasa untuk menampung berbagai informasi. Hal ini membuat seorang manusia memiliki kapasitas yang sangat besar untuk mendapatkan, menemukan, dan menggali berbagai sudut pandang di alam semesta. Salah dua hal yang sangat mudah dan efektif dilakukan untuk memperluas sudut pandang dan perspektif tentang sosok manusia ialah melalui buku dan berdiskusi. Dari buku dan berdiskusi kamu akan memiliki pemahaman dan padangan lain yang sebelumnya belum kamu pahami dan dapatkan. Dari buku dan bersikusi, kamu juga lebih mengetahui bagaimana cara kerja otak dalam mengakses sesuatu hingga membuat informasi tersebut berbekas dan diyakini oleh seorang manusia. Dari buku dan diskusi kamu akan lebih memahami konsep bias yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari.

 

4.    Eksplorasi adalah Kunci

Jangan takut untuk memulai dan mencoba hal-hal baru yang belum pernah kamu lakukan. Terjebak dalam sikap penasaran dan takut untuk mencoba adalah sesuatu yang sangat membuat diri kamu rugi. Untuk itulah eksplorasi adalah kunci utuk menemukan siapa diri kamu, sampai batas mana kemampuanmu, apa saja yang menjadi passionmu. Buktikan bahwa kamu berhak untuk memperjuangkan apa yang selama ini menjadi impian Kamu.

 

5.    Temukan Lingkungan dan Mentor yang Tepat

Jika dilingkunganmu saat ini kamu merasa selalu direndahkan, tidak termotivasi untuk mengejar impian, merasa dirimu tidak berkembang. Sudah saatnya kamu perlu untuk bergerak mencari lingkungan baru yang lebih kondusif dan kompetitif. Sebab, jika kamu tidak segera menemukan lingkungan yang membuat diri Kamu lebih berdaya dan berkembang, maka Kamu pun akan terus demotivasi dan pesimis terhadap hidup kamu. Selain lingkungan, penting sekali untuk menemukan mentor yang tepat. Sosok yang bisa membantu dan menjadi support sistem Kamu. Sebab lingkungan yang baik, mentor yang tepat akan memberikan nilai dan keyakinan yang baik pula untuk diri Kamu.

 

Itulah lima poin penting yang semoga bisa membantu kamu untuk mengatasi permasalahan dalam pola pikir keliru yang selama ini kamu yakini sebagai sesuatu yang benar. Dan semoga artikel ini membantu dan membuat kamu menjadi lebih baik dalam berpikir, bertindak lebih produktif dan mendekatkan dirimu pada impian yang sudah kamu cita-citakan sejak dulu.

Komentar

  1. Terimakasih, tulisannya sangat membantu sekali. Semoga kita dan orang-orang diluar sana terlepas dari pemikiran yg kurang tepat.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengontrol atau Memaksa?

3 TIPS NGEBUCININ DIRI SENDIRI

3 Tips Jitu Mengalahkan Mental Block